- Lebih dari 140 negara telah mengakui Palestina, termasuk sekutu dekat AS seperti Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal pada 2025, namun Amerika Serikat tetap menolak.
- AS menegaskan status Palestina hanya bisa ditentukan lewat negosiasi langsung dengan Israel, dengan alasan menjaga keamanan dan kepentingan politik domestik.
- Sikap ini membuat AS semakin terisolasi secara diplomatik, menghadapi kritik internasional, dan dinilai kehilangan kredibilitas sebagai mediator perdamaian.
Sejak deklarasi negara Palestina tahun 1988, semakin banyak negara yang memberikan pengakuan resmi. Hingga kini lebih dari 140 anggota PBB telah mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Gelombang terbaru datang dari negara-negara Barat seperti Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal pada September 2025.
Perkembangan ini menandai perubahan penting, karena sebelumnya negara-negara tersebut cenderung sejalan dengan Amerika Serikat yang belum mengakui Palestina.
Baca Juga: Inggris Hentikan Negosiasi Dagang dengan Israel Imbas Agresi di Gaza
Sikap Amerika Serikat: Bertahan pada Status Quo
Meski ratusan negara sudah sepakat, Amerika Serikat tetap menolak memberikan pengakuan resmi. Washington berpendapat bahwa status Palestina harus ditentukan melalui negosiasi langsung dengan Israel, bukan lewat pengakuan sepihak. Selain itu, hubungan strategis dengan Israel menjadi faktor penentu utama dalam kebijakan luar negeri AS.
Bagi AS, pengakuan sepihak dianggap dapat merusak proses perdamaian yang rapuh, sekaligus menimbulkan ketegangan politik domestik, mengingat dukungan besar terhadap Israel dari berbagai kelompok politik di dalam negeri.
Konsekuensi Diplomatik
Sikap Amerika Serikat menimbulkan sejumlah konsekuensi:
- Isolasi dalam Peta Diplomasi Global
Ketika sekutu dekat seperti Inggris dan Kanada mulai mengakui Palestina, posisi AS terlihat semakin terpisah. Hal ini dapat mengurangi pengaruh moral AS dalam isu perdamaian Timur Tengah. - Tekanan dari Komunitas Internasional
Banyak negara menilai pengakuan Palestina sebagai langkah mendukung solusi dua negara. Dengan tidak bergabung dalam arus ini, AS menghadapi kritik karena dianggap menghambat kemajuan diplomatik. - Citra Global
Di mata dunia, AS dinilai memilih keberpihakan ketimbang memainkan peran netral sebagai mediator. Situasi ini berpotensi merusak kredibilitasnya dalam perundingan damai di masa depan.
Apakah Sikap AS Akan Berubah?
Meski pemerintahan di Washington berganti, sikap dasar AS cenderung konsisten: menolak pengakuan Palestina sebelum ada kesepakatan dengan Israel. Namun, tekanan baru dari sekutu Eropa dan perubahan opini publik global bisa menjadi faktor pendorong yang menggeser kebijakan ini di masa depan.
Kesimpulan
Amerika Serikat masih menjadi salah satu dari sedikit negara besar yang menolak mengakui Palestina, bahkan ketika ratusan negara lain sudah sepakat. Alasan utamanya berkaitan dengan keamanan Israel, politik domestik, dan strategi diplomasi. Pertanyaannya, sampai kapan AS akan bertahan dengan posisi ini sementara semakin banyak sekutunya memilih arah berbeda?

