- Ferry Irwandi berhasil menggalang lebih dari Rp 10,3 miliar dalam 24 jam untuk korban bencana di Sumatera (termasuk Aceh).
- Donasi tersebut dikumpulkan melalui kampanye online di platform Kitabisa dan live-streaming di kanal YouTube Ferry Irwandi, di mana lebih dari 87.000 donatur berpartisipasi.
- Dana telah mulai disalurkan ke wilayah terdampak, dengan prioritas ke daerah terpencil dan terisolasi , termasuk daerah di provinsi Aceh.
Pada awal Desember 2025, Indonesia diguncang bencana banjir dan longsor besar di sejumlah provinsi Sumatera, termasuk Aceh. Menghadapi kondisi darurat ini, Ferry Irwandi, pendiri Malaka Project, memprakarsai kampanye penggalangan dana melalui Kitabisa dan siaran langsung di YouTube ,berupaya menggalang bantuan dengan skala nasional.
Antusiasme masyarakat begitu tinggi: dari target awal yang relatif sederhana, kampanye ini meledak menjadi gerakan solidaritas massal.
Angka Fantastis dalam 24 Jam Bukti Kekuatan Kolektif
Hanya dalam kurun waktu 24 jam, penggalangan dana tersebut mencapai angka Rp 10.374.064.800 (~Rp 10,3 miliar). Jumlah donatur tercatat lebih dari 87.605 orang dari seluruh Indonesia.
Angka ini menjadikannya salah satu penggalangan dana swadaya terbesar dalam respons bencana di platform crowdfunding domestik.
Fokus Penyaluran: Daerah Terisolasi & Aceh Sebagai Prioritas

Setelah donasi ditutup, Ferry dan tim segera bergerak untuk menyalurkan bantuan. Prioritas utama adalah wilayah paling terdampak dan terisolasi , termasuk desa-desa di provinsi Aceh yang sulit dijangkau. Bantuan mencakup logistik darurat seperti makanan, air bersih, kebutuhan medis, serta kebutuhan mendesak lain bagi korban banjir dan longsor.
Implikasi: Aksi Swadaya Publik sebagai Pelengkap Respons Krisis
Kesuksesan kampanye ini menunjukkan bahwa di era digital, solidaritas kolektif bisa bergerak sangat cepat , terutama bila digagas oleh figur publik dengan jaringan luas seperti Ferry Irwandi. Gerakan ini melengkapi respon institusi terhadap krisis, serta memperlihatkan bahwa partisipasi masyarakat bisa jadi kekuatan signifikan di masa darurat.
Namun, keberhasilan ini juga membawa tanggung jawab besar ,terutama soal transparansi penyaluran donasi dan keadilan distribusi bantuan. Publik dan para donatur tentu menuntut akuntabilitas agar donasi tepat sasaran.

