BRICS
De Dolarisasi
Emas
Yuan

Ancaman De-Dolarisasi Melalui Koridor Emas BRICS dan Kekuatan Yuan

Ilustrasi perdagangan global dan cryptocurrency di Shanghai - Globe, Yuan, Ingot Emas, dan Bitcoin melambangkan ekonomi tradisional dan digital.
  • Tiongkok Membangun Sistem Emas: Tiongkok secara masif mengakumulasi emas dan menciptakan infrastruktur “Koridor Emas” di BRICS untuk menggunakannya sebagai kolateral pembiayaan global, mem-bypass Dolar AS.
  • Tujuan Ganti Dolar: Langkah ini dipicu oleh hilangnya kepercayaan global terhadap Dolar AS pasca pembekuan aset Rusia, bertujuan menjadikan emas aset likuid tertinggi (HQLA) dan menantang dominasi Greenback.
  • Era Moneter Baru: Pergeseran ini mengarah pada persaingan dua blok keuangan global: sistem berbasis aset fisik (Emas, dipimpin Tiongkok) melawan sistem berbasis digital/teknologi (dipimpin AS).

Erosi Kepercayaan pada Aset Kertas

Fondasi dominasi dolar AS adalah kepercayaan. Selama beberapa dekade, sekitar 70% dari cadangan global disimpan dalam dolar AS dan Obligasi Tresuri AS, yang dianggap sebagai aset paling aman secara global. Namun, kepercayaan ini terkikis parah pada tahun 2022 ketika Amerika Serikat membekukan sekitar $300 miliar cadangan mata uang asing Rusia. Tindakan ini memberikan sinyal kepada seluruh dunia bahwa cadangan yang disimpan dalam dolar dapat disita atau dikunci hanya dengan sekali klik.

Menanggapi hilangnya kepercayaan ini, bank sentral di seluruh dunia, terutama di pasar negara berkembang, mempercepat proses de-dolarisasi. Mereka mulai secara sistematis menjual Obligasi Tresuri AS dan meningkatkan pembelian emas fisik.

Akumulasi Emas Agresif oleh Tiongkok

Gdung Bank Central China

PBOC telah memposisikan dirinya sebagai salah satu pembeli emas terbesar secara global. Akumulasi ini meningkat signifikan, menandai laju pembelian publik tercepat dalam sejarah modern. Bank sentral Tiongkok telah membeli emas untuk cadangannya selama 17 bulan berturut-turut hingga Maret 2024, sebuah rekor yang membantu lonjakan harga logam mulia tersebut. Tiongkok terus melaporkan peningkatan kepemilikan emas resminya dari bulan ke bulan. Data PBOC mengenai pembelian emas secara beruntun dapat merujuk ke laporan seperti dari Reuters atau The Economic Times

Dengan membuat akumulasi emas besarnya terlihat publik, Tiongkok memberi isyarat kepada negara-negara lain tentang kemampuannya untuk melepaskan diri dari sistem dolar AS. Tren ini juga tercermin secara global, di mana bagian dolar dalam cadangan global telah jatuh ke level terendah dalam beberapa dekade, seiring dengan negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan) secara kolektif memegang lebih dari 6.000 ton emas, yang dianggap sebagai perisai strategis untuk de-dolarisasi.

Peningkatan Status Emas sebagai Instrumen Keuangan

Perkembangan penting yang mendukung pergeseran ini adalah klasifikasi ulang emas di bawah kerangka kerja Basel III menjadi aset Tier 1. Meskipun emas alokasi fisik sudah lama dianggap sebagai aset Tier 1 untuk tujuan kecukupan modal, perubahan ini semakin memperkuat posisinya, memungkinkan bank untuk mengakui 100% dari nilai emas pada neraca mereka, sejajar dengan kas dan obligasi pemerintah berperingkat tertinggi.

Tujuan utamanya adalah agar emas ditingkatkan lebih lanjut menjadi High-Quality Liquid Asset (HQLA). Status HQLA saat ini sebagian besar dipegang oleh Obligasi Tresuri AS, menjadikannya kolateral fundamental untuk semua pembiayaan global. Jika emas mencapai status HQLA, ia akan menjadi instrumen keuangan aktif yang dapat dipinjamkan, dijaminkan, dan digunakan oleh negara-negara untuk mendanai pembangunan infrastruktur tanpa bergantung pada dolar.

Koridor Emas: Sistem Keuangan yang Terdesentralisasi

Untuk meyakinkan negara-negara BRICS agar menggunakan yuan, Tiongkok harus mengatasi masalah penting mengenai kustodi (penyimpanan) dan kepercayaan. Solusinya adalah Koridor Emas, sebuah jaringan brankas emas yang tersebar secara geografis di negara-negara BRICS. Jaringan ini terhubung dengan Shanghai Gold Exchange (SGE), yang melacak kemurnian dan kepemilikan setiap batang emas, secara efektif mendesentralisasi kustodi dan membuat emas dapat diverifikasi dan ditebus.

Infrastruktur baru ini memungkinkan negara-negara, terutama negara-negara berkembang kaya sumber daya, untuk menyetorkan emas mereka ke SGE. Tiongkok kemudian dapat meminjamkan yuan kepada mereka melalui institusi seperti New Development Bank (NDB), Bank BRICS, untuk mendanai proyek infrastruktur. NDB didirikan pada tahun 2014 untuk mendanai proyek keberlanjutan dan infrastruktur di negara-negara BRICS, menawarkan alternatif bagi sistem keuangan tradisional.

Kerangka kerja ini memungkinkan pembangunan global yang signifikan terjadi di luar kendali dan persyaratan Dana Moneter Internasional (IMF).

Implikasi dan Masa Depan Persaingan Moneter

Amerika Serikat tampaknya menanggapi pergeseran geopolitik ini. Peningkatan permintaan strategis global, terutama jika institusi keuangan menyesuaikan kepemilikan cadangan emas mereka, diperkirakan akan menghasilkan permintaan baru yang besar. Karena emas tidak dapat dicetak, hal ini dapat diterjemahkan menjadi perubahan harga aset yang cepat dan substansial.

Pada akhirnya, dunia sedang bergerak menuju fase multi-moneter dalam sejarah:

  1. Blok yang Didukung Emas: Dipimpin oleh Tiongkok dan BRICS, berfokus pada stabilitas, kolateral keras, dan aset fisik yang berusia ribuan tahun.
  2. Blok Digital: Dipimpin oleh AS dan Barat, yang mungkin membalas dengan memasangkan dolar dengan teknologi—seperti stablecoin, aset tokenisasi, atau berpotensi Bitcoin—yang mewakili kepercayaan melalui energi, matematika, dan transparansi.

Di era baru ini, pemerintah akan secara aktif bersaing untuk mendapatkan pengaruh melalui konsep dan struktur uang, menawarkan pilihan nyata kepada negara dan masyarakat antara sistem cadangan yang bersaing.